6.11.14
29.9.14
Mencari "Idiot"


(Membaca Novel Galuh Hati, Randu Alamsyah)
Oleh M.
Nahdiansyah Abdi
Saya membaca novel Galuh Hati (Moka Media, Jakarta,
2014) dengan dibayangi foto penulisnya di facebook yang diapit
dua dara itu. Novel ini mampir ke rumah saya sebab rengekan isteri yang minta
dibelikan itu novel begitu terlihat olehnya sampulnya di sebuah koran lokal.
Ah, kenapa perempuan suka dengan hal-hal yang nampak kemilau? Saya diberinya
uang untuk berburu buku itu ke rumah Harie Insani Putra. Namun buku itu malah
dibeli saat ada jualan buku di depan Perpustarda Kota Banjarbaru, beberapa
waktu kemudian. Waktu beli buku itu kepergok sama Sandi Firly. Dan diam-diam saya
sedikit merasa bersalah karena tidak juga membeli dan
membaca novel Lampau yang terbit
belum lama berselang.
Di rumah, saya desak isteri saya
supaya segera membaca, biar kali ini saya berposisi sebagai pendengar saja. Saya geleng-geleng kepala karena ia membaca dari
halaman belakang.
Saya memprotes: “Apa serunya, kalau begitu!” kata saya. Tak berapa lama ia lemparkan buku itu. Ia
ketakutan. Ia merasa ngeri karena di dalamnya ada kisah pembunuhan. Ia memang
sensitif beberapa tahun belakangan ini. Sampai kemudian saya mengkhatamkan
novel Lampau-nya Sandi Firly, Galuh
Hati tetap belum tersentuh.
16.9.14
Sekaca Cempaka dan “Mati Jadi Hantu” Kebudayaan Kita
![]() |
| sumber foto: fb harie insani putra, Jum'at 5 September 2014 (bukan Agustus) |
(Catatan
Kecil Selepas Diskusi Novel Sekaca
Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF)
Oleh: M. Nahdiansyah Abdi
Sebuah novel, niscaya, dapat dimasuki lewat pintu mana saja. Seorang
pembaca memiliki kecenderungan dan minat terhadap sesuatu hal, dan dengan
“sesuatu hal” itulah ia melakukan pembacaan. Barangkali demikianlah kesimpulan
dari diskusi novel Sekaca Cempaka
karya Nailiya Nikmah JKF di Aula Perpustarda Kota Banjarbaru, Jum’at malam, 6
September 2014.
Menjadi sah-sah saja ketika Dewi Alfianti mengupasnya lewat wacana-wacana
gender, yang lain menyorot lokalitasnya, atau ada beberapa peserta yang merasa
terganggu dengan label sastra Islaminya. Tentu, tak ketinggalan, ada juga
peserta yang gatal dengan soal-soal teknis. Malam itu, semua hibuk jadi satu.
Dan semua berawal dari Sekaca Cempaka. Dari sekaca cempakalah novel ini
merangkai konflik. Bunga abadi dalam botol berisi air itu telah menjadi
pertaruhan pengarang untuk menguak batin tokoh-tokohnya dan membongkar situasi
sosial yang melingkupinya. Cerita tak akan terbangun seandainya tak ada mitos
yang hadir di sekitar keberadaan sekaca cempaka. Ya, mitos. Sederhananya, ini
cerita tentang pertarungan mitos dengan rasionalitas.
8.9.14
Lampau dan Pelajaran Menulis Novel
M. Nahdiansyah Abdi

Tentu berbeda pengalaman membaca novel antara orang yang mengenal penulisnya secara pribadi dengan orang yang tidak mengenal apapun dari penulisnya kecuali hanya sekedar nama. Menyandingkan kehidupan pribadi si penulis dengan kisah dalam novel, sepertinya akan menjadi tambahan petualangan bagi orang-orang yang mengenal dekat. Pikiran dengan sendirinya akan mengelompokkan mana bagian yang merupakan imajinasi dan mana bagian yang merupakan kisah nyata. Pada kenyataannya, tak ada satu novelis pun yang luput dari menceritakan kisah dirinya. Ada lintasan-lintasan pengalaman atau persepsi yang sangat khas, yang sesekali tersembul dalam cerita, yang berasal dari kehidupan nyata si penulis. Semakin pembaca terlibat dalam kehidupan penulis, semakin tak terelakkan dorongan untuk menelisik itu. Dan jika itu diceritakan atau dituliskan, maka akan menjadi kisah tersendiri yang tak kalah menarik.
13.4.14
Merenungi Sajak, Menjaga Bumi, Merenda Keakanan
(Perbincangan melebar
atas sajak Kalimantan Selatan 2030
Kemudian, karya Micky Hidayat)
Oleh M. Nahdiansyah
Abdi
Sebuah sajak
yang marah, yang berkabar tentang kehancuran dan tragedi, apa nikmatnya?
Bagaimana cara “berdamai” dengan puisi yang gegap gempita menceritakan murka
dan amukan alam. Saya tak tahu caranya dan sebenarnya tidak terlalu ingin
menghadapi “amukan” kata-kata mengerikan dalam tubuh makhluk yang lembut
seperti puisi. Menghadapi orang-orang gangguan jiwa di rumah sakit saja sudah
repot. Tapi kalau mau ditelusuri, ada saja penyair yang mau mengolah tema
tersebut. Salah satunya adalah penyair Micky Hidayat, yang menulis puisi Kalimantan Selatan 2030 Kemudian. Puisi
tersebut dapat ditemukan di antologi “Sungai Kenangan” (ASKS IX, Banjarmasin,
2012). Konon, puisi tersebut merupakan metamorfosis dari puisi SOS Kalimantan Selatan yang terdapat
dalam kumpulan “Meditasi Rindu”.
Jika
merunut lebih awal, di era Pujangga Baru, penyair Amir Hamzah telah pula bertutur
tentang huru hara alam. Di sajak Hanya
Satu, dalam kumpulan “Nyanyi Sunyi”, si penyair bersenandung:
Timbul
niat dalam kalbumu:
Terban
hujan, ungkai badai
Terendam
karam
Runtuh
ripuk tamanmu rampak
Manusia
kecil lintang pukang
Lari
terbang jatuh duduk
Air naik
tetap terus
Tumbang
bungkar pokok purba
Teriak
riuh redam terbelam
Dalam
gagap gempita guruh
Kilau
kilat membelah gelap
Lidah
api menjulang tinggi
dst.
TERIAKAN DIAM DAN KREDO PENYEMBUHAN
Oleh M.
Nahdiansyah Abdi*
dr. IBG Dharma Putra,
MKM, demikian nama si empunya buku. Lahir di Banjar Tengah, Negara, Jembrana,
Bali, pada 1 Maret 1961. Memulai karir sebagai dokter atau kepala puskesmas (?)
di desa Kurau, Kabupaten Tanah Laut. Nasib mengantarkannya ke berbagai
rupa-rupa jabatan, di berbagai kota di Kalimantan Selatan, hingga terakhir
menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai). Buku
Teriakan Diam diterbitkan dalam masa
itu. Namun, terhitung sejak 1 Desember 2013, ditarik ke provinsi dan diangkat menjadi
plt. Direktur RS Jiwa Sambang Lihum. Dan setelah ini, entah ke mana lagi.
Ada 44 (empat puluh
empat) puisi dalam kumpulan Teriakan Diam.
Sebagai kumpulan puisi debutan, barangkali puisi-puisinya tak terlalu istimewa.
“Aku ingin seperti Renda walau tak
sampai/Ingin pula meniru Tardji, Goenawan dan Emha/Kadang ingin jadi Taufik/Dan
sering sok Chairil Anwar, ” tuturnya dalam sajak Puisiku Sepi. Para pencari “efek kejut” dari puisi, dalam sekali
baca, barangkali tak akan menemukan apa-apa di sini. Tinimbang membincangkan
puisi, saya lebih tertarik dengan esai yang ditulisnya untuk buku ini. Judulnya
Kredo Penyembuhan.
“Puisi seharusnya punya kegunaan pragmatis di
samping makna filosofi yang dikandungnya. Tanpa hal tersebut maka puisi
hanyalah kegenitan pengisi waktu luang yang sia-sia,” tulisnya di paragraf
awal. Setelah itu, secara panjang lebar dijelaskan tentang interaksi jiwa,
badan (wadag) dan lingkungan kehidupan. Dikatakan bahwa jiwa adalah inti dan
bagian holistik dari kehidupan. Jiwa adalah abadi dalam pengembaraan filosofis
kosmis untuk mencari sumbernya. Dan dalam kehidupan, jiwa ikut ambil bagian
dalam alam kehidupan yang nyata. Pertemuan jiwa dengan domain holistik
kehidupan adalah takdir dan kenyataan, tulisnya.
KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN, SEBUAH CATATAN*
Oleh: M. Nahdiansyah Abdi
Kita hidup dalam budaya lisan yang kental.
Kelisanan itu muncul dari pelisan, sebagai aktor utama, dan penonton, di sisi
yang berseberangan. Budaya menonton telah menjadi bagian dari hidup kita. Seni
tradisi kita hanya dipenuhi tontonan. Seni tari, seni musik, seni drama,
niscaya mensyaratkan hadirnya penonton. Madihin, mamanda, bakisah, balamut, basyair,
musik panting, aneka tarian, memiliki kegairahan dengan adanya penonton.
Jadilah ketika televisi hadir, tradisi menonton kita menemukan oasenya.
Televisi hadir 24 jam, memungkinkan kita mengatur waktu untuk memelotinya
sesuai dengan waktu lowong kita. Jangkauannya luas, melintasi berbagai ruang
dan waktu. Acara hari ini, bisa ditayang
esok hari, dan esok lagi, dan esok lagi, dan bertahun-tahun kemudian hingga
menjangkau manusia yang akan datang.
JALAN MENUJU GUMAM
Oleh M.
Nahdiansyah Abdi
Empat buku gumam telah diluncurkan oleh Ali Syamsudin Arsi
(ASA), yaitu Negeri Benang pada Sekeping
Papan (2008), Tubuh di Hutan-hutan
(2009), Istana Daun Retak (2010), dan
Bungkam Mata Gergaji (2011). Sampai saat
ini, penulisnya masih bersikukuh bahwa gumam adalah genre tersendiri, terlepas
dari beragam komentar yang memuji dan menyangsikannya. Bagi saya sendiri, hanya
ada satu pintu masuk untuk memahami gumam, yaitu kata “gumam” itu sendiri.
Orang barangkali kesulitan mengidentifikasi jenis kelamin gumam. Dikatakan
puisi bukan, dikategorikan prosa juga tak tepat. Ada orang yang melihat ciri
gumam dari kerumitan dan kemampuannya dalam jungkir balik bahasa, yang tentu, membuat
lelah pembacaan akibat abstraksi ide yang berlebihan1. Yang lain menyebut
gumam sebagai karya yang asimetri, disharmonis, dan menggambarkan adanya
dekonstruksi. Dikatakan, Gumam ASA sengaja didesain tidak teratur sebagai dasar
estetiknya2. Pernyataan-pernyataan itu barangkali benar adanya. Namun,
tak sedikit bagian dari gumam yang runtut, teratur, dan harmonis. Sepertinya
gumam ingin melanggar semua batasan-batasan yang ada. Ia bisa sangat puitis,
bila sangat prosais, namun juga bisa sangat gelap.
19.6.12
2 Puisi Saya
REFLEKSI
Tubuh dan hidupku adalah monumen
dari hutang yang tak kan bisa terbayarkan
Seberapa keras aku menyicil
lebih terdengar sebagai lelucon saja
Hutang yang kian membengkak
setiap bertambah sekon
yang menyebabkan
aku tergolek lemas oleh rasa syukur
Aku hidup dengan nafas buatan
langsung dari mulutMu
dan matiku pun, tidak bisa tidak,
akan di pangkuanMu
Bolehkah sekarang
aku menangis, Tuanku?
Karanganyar 2, 20 Juni 2012
M. Nahdiansyah Abdi
Tubuh dan hidupku adalah monumen
dari hutang yang tak kan bisa terbayarkan
Seberapa keras aku menyicil
lebih terdengar sebagai lelucon saja
Hutang yang kian membengkak
setiap bertambah sekon
yang menyebabkan
aku tergolek lemas oleh rasa syukur
Aku hidup dengan nafas buatan
langsung dari mulutMu
dan matiku pun, tidak bisa tidak,
akan di pangkuanMu
Bolehkah sekarang
aku menangis, Tuanku?
Karanganyar 2, 20 Juni 2012
M. Nahdiansyah Abdi
28.4.12
PANTUN DAN SONETA CHAIRIL ANWAR
Oleh M.
Nahdiansyah Abdi*
Tanggal
28 April selalu diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia. Mengenang hari
tersebut tentu saja tak bisa lepas dari sosok Chairil Anwar karena tanggal kematiannyalah
yang dijadikan penanda. Chairil sering digambarkan sebagai pendobrak dan
pembaharu puisi di Indonesia. Tak jarang ia digambarkan sebagaimana bait
puisinya sendiri: sebagai binatang jalang. Puisinya dianggap keluar dari
kecenderungan umum zamannya, yang tertib pola, dan menjelma menjadi sajak bebas
yang tak terikat. Bahkan Sapardi Djoko Damono, tidak menyarankan mempelajari
puisi-puisi Chairil bagi pemula untuk menghindari terciptanya sajak emosional
yang tidak terjaga.1 Ya, Chairil telah terlampau identik dengan
puisi Aku-nya.
Berlawanan dengan ingatan massa yang
mengenang Chairil sebagai sosok yang meradang-menerjang, saya ingin mengenang
Chairil sebagai seorang yang tertib. Seorang yang rapi jali. Tentu lewat karya-karyanya.
Ini sebenarnya mengejutkan saya juga: ternyata Chairil menulis pantun dan
soneta. Bentuk-bentuk puisi jadul yang bahkan di zaman itu sudah dianggap
ketinggalan. Namun setelah diserapi dan direnungi, saya menangkap nilai
simbolik di balik pantun dan soneta Chairil. Saya menangkap ketegangan dan
pergulatannya dalam merumuskan keindonesiaannya, lebih khusus lagi, merumuskan
dirinya sendiri di tengah peradaban-peradaban kemanusiaan.
10.9.11
Doa Banyu Mata dan Bawah Sadar Kolektif Orang Banjar (Sebuah Perjalanan Mencari “Banjar”)
Kada karasaan banyu mata
kilirkiliran
Dalam hati maingui doa
Ma
Bah
Ulun tulak
Handak manuntut ilmu di banua
urang
Sangui banyakbanyak ulun
Lawan doa pian badua
(Doa Banyu Mata, 1979)
Tanggal 4 Agustus 2011, hari keempat bulan Ramadhan, saya
menerima buku dengan kover berlatar hijau tua itu, yang setiap sudut-sudutnya
penuh tetesan air (sepertinya) hujan. Lewat kemurahan hati seorang teman, di
singgasananya yang mungil,
kantor Tahura Media di bilangan Jalan Sultan Adam. Ya, sebuah kumpulan puisi
Bahasa Banjar berjudul Doa Banyu Mata
oleh Abdurrahman El Husaini. Membaca puisi yang tampil menjadi judul buku di
pembuka tulisan, terbentanglah sebuah pengalaman yang sangat personal. Sebuah
perpisahan seorang anak yang ingin menuntut ilmu. Peristiwa akan madamnya satu
anak manusia, atau dalam bahasa penyairnya: “Pas basalaman handak turun pada rumah”. Sebuah pembuka yang cantik,
saya kira, yang ingin saya sebut perjalanan mencari banjar di dalam diri.
28.7.11
CERMIN KEDUA
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Saya ingin membuka risalah kecil ini dengan sebuah kutipan cerita dari novel “Alkemis” karya Paulo Coelho. Diceritakan sepeninggal Narsiscus, tokoh mitologi Yunani yang tergila-gila dengan dirinya sendiri itu, danau tempat ia biasa bercermin mendadak asin. Rupanya danau itu menangis karena ditinggalkan Narsiscus sehingga berubah menjadi danau airmata. Peri-peri hutan yang mendengar isak tangis itu menjadi iba. Mereka mencoba menghibur, “Sudahlah, danau. Jangan kau bersedih. Kami tahu Narsiscus memang tampan, sehingga kau merasa berat kehilangan dia.” Danau menjawab,”Saya memang merasa kehilangan dia, tapi saya tak tahu kalau Narsiscus itu tampan.” Peri-peri hutan heran,”Bagaimana bisa, bukankah kau yang setiap hari menyaksikan Narsiscus duduk berlutut di depanmu untuk bercermin?” “Saya benar-benar tidak tahu, saya hanya tahu bahwa setiap kali Narsiscus bercermin, saya melihat di kedalaman matanya, pantulan diri saya yang indah,” jawab danau dengan mata yang sembab.
28.2.11
PUISI-PUISI LELAH HAJRIANSYAH
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Data buku kumpulan puisi
Judul : 79 Puisi Hajri
Penulis : Hajriansyah
Cetakan : I, Juli 2010
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : vii + 104 halaman, 14 x 20 cm ( 79 judul puisi)
ISBN : 978-602-84140-23-4
Editor : Sandi Firly
Ilustrasi : Agus Trianto BR (7 lukisan)
O banjir
bawakan aku
sebuah mobil
dengan desain terbaru
(Banjir II, hlm 8)
“Sekarang, apa lagi yang ingin ditawarkan Hajri lewat buku puisinya ini?” demikian pertanyaan menggantung di kepala saya. Pertama, saya terkesan dengan ilustrasi-ilustrasi dalam buku tersebut. Kedua, saya sempat tersentak dengan kejutan bahasa seperti pada puisi “Banjir II” yang saya kutip sebagian di atas. Kebetulan itu puisi-puisi awal yang saya baca. Parodis dan tragis sekaligus. Bait-bait awal puisi itu berisi kemarahan, kesedihan, kenaifan. Mulanya dipakai kata “kita” untuk mencapai situasi kebersamaan, bait akhir, menukik ke “aku”. Saya mengira, situasi yang menimbulkan situasi setengah menggelitik ini adalah puncak dari seluruh perasaan lelah. Lelah marah, lelah bersedih, lelah kecewa, lelah tidak berdaya. Bukankah puncak dari tragedi adalah parodi?
Kemudian, terbaca olehku sebuah puisi sederhana yang luar biasa. Judulnya “Puisi Wajahku”, Sebait puisi ditulis anakku yang paling kecil/Isinya kurang lebih seperti ini:/Ayah, aku bisa menggambar wajahmu. Bagaimana momen kekinian ditangkap tanpa beban. Tak ada interpretasi yang berlebihan. Bangunan puisi menjadi lengkap dengan pilihan judul yang apik, Puisi Wajahku.
Saya mengira, akan memperoleh kejutan-kejutan serupa dalam buku ini. Ternyata saya salah. Lepas dari dua puisi itu, saya seperti terlempar ke puisi-puisi yang lelah menanggung diksinya. Saya terseret ke situasi yang blue. Nelangsa. Puisi-puisi yang penuh beban. Beban dari masa lalu, beban dari masa depan. Di belakang diberati kenangan, penyesalan, keletihan, kesedihan dan kejengahan. Di depan, terancam kebingungan dan ketidakpastian. Sial.
Di antara puisi-puisi yang sarat beban itu, saya mencoba bernafas. Benarkah tak ada yang bisa digali? Saya mengais lagi. Membaca lagi puisi-puisi tersebut secara acak. Benar-benar tanpa harapan! Bagai menjalani mimpi buruk. Atau dalam bahasa Hajri sendiri, ini seburuk-buruk mimpi di luar tidurku (Puisi “Ninda”, hlm. 27). Apa yang salah? Ternyata saya ikut terseret. Saya ikut mendung. Saya ikut menderita dan cemas. Dan saya berpaling pada sebuah gerakan filsafat. Gerakan eksitensialisme.
26.2.11
RUMAH DEBU: ANTARA METAFOR SOSIAL DAN METAFOR PERSONAL
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Data Novel
Judul : Rumah Debu
Penulis : Sandi Firly
Cetakan : I, November 2010
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : iii + 151 halaman, 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-84140-26-0
Bukan maksudku mau berbagi nasib
Nasib adalah kesunyian masing-masing
(Pemberian Tahu, Chairil Anwar)
25.2.11
TENTANG MENGALAMI CERPEN DAN IDEOLOGI PENGARANG
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Di depan saya tergeletak kumpulan cerpen “Rindu Rumpun Ilalang” yang ditulis oleh Nailiya Nikmah JKF. Buku yang diterbitkan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin pada Juli 2010 ini, sampul depannya didominasi warna hijau. Warna yang konon memberi sensasi keseimbangan, harmoni, penyembuhan dan daya menenangkan.
24.2.11
SASTRAWAN, SELEBRITAS DAN HUKUM EKONOMI
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Barangkali, sastrawan adalah istilah yang membingungkan atau bisa jadi menakutkan. Ada sejumlah paradoks yang terus-terusan dipertahankan. Kesulitan pertama adalah belum adanya definisi yang jelas tentang kedudukan manusia ini, apakah sebagai homo luden (manusia yang bermain), atau homo faber (manusia pekerja), atau homo symbollicum (pembuat simbol) atau homo esperans (yang berharap), atau homo-homo lain yang pernah didefinisikan. Ia dapat didefinisikan sebagai apa saja, dan karenanya maasi (patuh) dengan hukum-hukum yang banyak itu. Ia dapat terlihat berpolitik dari kacamata politik, tunduk pada hukum ekonomi bila dilihat dari kacamata ekonomi, atau terlihat seperti bermain-main saja (iseng) bila dilihat dari kacamata yang lain.
21.2.11
YANG OBSESIF-KOMPULSIF DARI DEBUR OMBAK GURUH GELOMBANG
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Kesan Awal
Membolak-balik buku kumpulan puisi Debur Ombak Guruh Gelombang karya Jamal T. Suryanata (JTS), tidaklah lepas dari kesan awal. Menyerap baik-baik judul kumpulan puisi itu memaksa kita untuk diam sejenak mengaktifkan indera pendengaran untuk kemudian merasakan gerusan-gerusan dari suara-suara alam yang menggetarkan. Demikian berulang-ulang. Surut dan menerjang lagi, seperti mainan ombak di pantai.
Membaca sekilas beberapa puisi, saya seperti menemukan kitab tentang menafsir diri. Banyak ungkapan yang digunakan penyair untuk menjelaskan siapa yang bersangkutan dan apa yang dirasakan dalam bangunan tafsir-tafsir relasi dengan dunia yang magis. aku, anak yang kemarin berlari mencari diri/menarikan cemas bayangkan negeri keakanan (h.3), akulah pendosa yang menjelma rangkaian doa (h.12), akulah burung perindu yang terus mengepak/terbang memburu keindahan semesta cintamu (h.35), akulah musafir yang tak pernah puas hujan kasihmu/masih gagap membaca gemuruh samudera alifmu (h.74).
Dalam pencarian jawaban tentang siapa “aku”, tak segan penyair menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan menyejarah, untuk diculik ke dalam sajaknya. Pun tokoh-tokoh mitos. Maka akan kita temukan nama plato, sokrates, aristoteles, archimedis, herakleitos, galileo, descartes, sisifus, iphigenia, agamemnon, sluerhoff, nietzsche, sartre, iqbal, rumi, rabi’ah adawiyah, al-hallaj, Ibrahim, Ismail, Muhammad. Bahkan ia tak segan-segan menderetkan beberapa nama sekaligus dalam satu baris sajak, seperti camus, corbire, masefield, po tsu i (h.50) atau hafizh, zunnun, sa’di, sana’i (h.84). Kesan yang ingin ditampilkan, barangkali, adalah kita tak lepas dari sejarah, sejarah harus dibaca ulang, untuk menggenapkan sisi kemanusiaan kita. agamemnon, ajari aku sekali lagi/bagaimana sebaiknya membaca sejarah/dan menerjemahkan diri sebagai manusia (h. 47).
19.2.11
POLITIK TERTIKAM SASTRA
(Tanggapan terhadap tulisan Taufik Arbain, “Seni(man) Tertikam Politik”, Radar Banjarmasin, 27 Desember 2009)
Oleh M. Nahdiansyah Abdi*
Kekuasaan, yang besar dan langgeng, niscaya terbangun di sekitar aksara dan teks. Niscaya akan ada teks-teks yang disakralkan dan atau disucikan. Rakyat jelata tidak memiliki aksara, mereka hanya punya bahasa lisan. Ekspresi perlawanan ditunjukkan dengan tindakan bahasa seperti sumpah serapah dan gerundelan/gerunuman, atau tindakan fisik langsung terhadap pusat kekuasaan. Penyebaran aksara oleh penguasa, merupakan strategi untuk menciptakan mitos, meluaskan serta melanggengkan kekuasaan. Pujangga, saat itu, menjadi corong kekuasaan yang penting.
16.2.11
MATA UNTUK MAMA
(Antara perlawanan dan kompromi)
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Awal
Habislah saya. Saya sudah menolak untuk bicara “Mata untuk Mama” (MuM), kumpulan cerpen dan puisi Sainul Hermawan. Saya ingin berada dalam posisi penikmat saja, sambil sesekali terkagum-kagum dengan rumpun liar kata-kata. Saya sudah menolak, namun karisma orang ini sungguh besar. No mercy, teriaknya lewat sms. Seperti ada tangan kekuasaan gaib yang mencengkeram saya dan membuat saya kesulitan bernafas. Titahnya sudah tetap dan sejak itu, berkali-kali saya mengutuki diri.
12.2.11
HIDUP SELAYAK PUISI
Oleh M. Nahdiansyah Abdi
Di Bandung pernah hidup seseorang yang bersumpah, jika sampai umur sekian, namanya tak juga dikenal khalayak sastra nasional, maka ia memutuskan untuk berhenti menulis sastra dan hidup bersahaja. Menjadi tukang roti baginya lebih terhormat daripada hidup mempertahankan kekeraskepalaan. Ia akan menganggap dirinya tidak berbakat untuk menempuh jalan itu. Titik.
Langganan:
Postingan (Atom)













