Laman

Tampilkan postingan dengan label Taufik Arbain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taufik Arbain. Tampilkan semua postingan

19.2.11

POLITIK TERTIKAM SASTRA


(Tanggapan terhadap tulisan Taufik Arbain, “Seni(man) Tertikam Politik”, Radar Banjarmasin, 27 Desember 2009)

Oleh M. Nahdiansyah Abdi*

 Sastra yang Berpatron

Kekuasaan, yang besar dan langgeng, niscaya terbangun di sekitar aksara dan teks. Niscaya akan ada teks-teks yang disakralkan dan atau disucikan. Rakyat jelata tidak memiliki aksara, mereka hanya punya bahasa lisan. Ekspresi perlawanan ditunjukkan dengan tindakan bahasa seperti sumpah serapah dan gerundelan/gerunuman, atau tindakan fisik langsung terhadap pusat kekuasaan. Penyebaran aksara oleh penguasa, merupakan strategi untuk menciptakan mitos, meluaskan serta melanggengkan kekuasaan. Pujangga, saat itu, menjadi corong kekuasaan yang penting.