26.8.16
Seno Gumira Ajidarma
Kupikir, bagus juga jika poster-poster sastra diposting.
Poster sastra berikut dibikin Sandi Firly dan kutemukan di facebook Hajriansyah, 27 Agustus 2016.
Demikian.
19.2.15
6 HAL YANG MENGHANCURKAN KITA
"Hal-hal yang bisa menghancurkan kita:
(1) Kekayaan tanpa kerja,
(2) Pengetahuan tanpa karakter,
(3) Bisnis tanpa moralitas,
(4) Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan,
(5) Ibadah tanpa pengorbanan,
(6) Politik tanpa prinsip."
(Dale Carnegie)
(1) Kekayaan tanpa kerja,
(2) Pengetahuan tanpa karakter,
(3) Bisnis tanpa moralitas,
(4) Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan,
(5) Ibadah tanpa pengorbanan,
(6) Politik tanpa prinsip."
(Dale Carnegie)
17.2.15
TENTANG KEGIGIHAN DAN TEKAD
"Dunia ini akan penuh dengan gelandangan yang berpendidikan. Kegigihan dan tekad sendirilah yang akan berkuasa"
(Dale Carnegie)
16.2.15
FORMULA UNTUK GAGAL
"Saya tidak dapat memberi Anda formula untuk sukses, tetapi saya dapat memberi Anda formula untuk gagal. Cobalah untuk menyenangkan setiap orang."
(Dale Carnegie)
15.2.15
MENGENALI PELUANG
"Peluang biasanya menyamar sebagai bekerja keras, sehingga sebagian besar orang tidak mengenali mereka"
(Dale Carnegie)
(Dale Carnegie)
13.2.15
IDE TERBAIK
"Ide terbaik datang sebagai lelucon"
(Dale Carnegie)
"Humor adalah penegasan martabat, sebuah deklarasi superioritas manusia kepada semua yang menimpa dia"
(Dale Carnegie)
Nah, mulai detik ini saya akan rajin memposting celutukan-celutukan buat ngisi blog. Moga berkenan.
(Dale Carnegie)
"Humor adalah penegasan martabat, sebuah deklarasi superioritas manusia kepada semua yang menimpa dia"
(Dale Carnegie)
Nah, mulai detik ini saya akan rajin memposting celutukan-celutukan buat ngisi blog. Moga berkenan.
6.11.14
29.9.14
Mencari "Idiot"


(Membaca Novel Galuh Hati, Randu Alamsyah)
Oleh M.
Nahdiansyah Abdi
Saya membaca novel Galuh Hati (Moka Media, Jakarta,
2014) dengan dibayangi foto penulisnya di facebook yang diapit
dua dara itu. Novel ini mampir ke rumah saya sebab rengekan isteri yang minta
dibelikan itu novel begitu terlihat olehnya sampulnya di sebuah koran lokal.
Ah, kenapa perempuan suka dengan hal-hal yang nampak kemilau? Saya diberinya
uang untuk berburu buku itu ke rumah Harie Insani Putra. Namun buku itu malah
dibeli saat ada jualan buku di depan Perpustarda Kota Banjarbaru, beberapa
waktu kemudian. Waktu beli buku itu kepergok sama Sandi Firly. Dan diam-diam saya
sedikit merasa bersalah karena tidak juga membeli dan
membaca novel Lampau yang terbit
belum lama berselang.
Di rumah, saya desak isteri saya
supaya segera membaca, biar kali ini saya berposisi sebagai pendengar saja. Saya geleng-geleng kepala karena ia membaca dari
halaman belakang.
Saya memprotes: “Apa serunya, kalau begitu!” kata saya. Tak berapa lama ia lemparkan buku itu. Ia
ketakutan. Ia merasa ngeri karena di dalamnya ada kisah pembunuhan. Ia memang
sensitif beberapa tahun belakangan ini. Sampai kemudian saya mengkhatamkan
novel Lampau-nya Sandi Firly, Galuh
Hati tetap belum tersentuh.
16.9.14
Sekaca Cempaka dan “Mati Jadi Hantu” Kebudayaan Kita
![]() |
| sumber foto: fb harie insani putra, Jum'at 5 September 2014 (bukan Agustus) |
(Catatan
Kecil Selepas Diskusi Novel Sekaca
Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF)
Oleh: M. Nahdiansyah Abdi
Sebuah novel, niscaya, dapat dimasuki lewat pintu mana saja. Seorang
pembaca memiliki kecenderungan dan minat terhadap sesuatu hal, dan dengan
“sesuatu hal” itulah ia melakukan pembacaan. Barangkali demikianlah kesimpulan
dari diskusi novel Sekaca Cempaka
karya Nailiya Nikmah JKF di Aula Perpustarda Kota Banjarbaru, Jum’at malam, 6
September 2014.
Menjadi sah-sah saja ketika Dewi Alfianti mengupasnya lewat wacana-wacana
gender, yang lain menyorot lokalitasnya, atau ada beberapa peserta yang merasa
terganggu dengan label sastra Islaminya. Tentu, tak ketinggalan, ada juga
peserta yang gatal dengan soal-soal teknis. Malam itu, semua hibuk jadi satu.
Dan semua berawal dari Sekaca Cempaka. Dari sekaca cempakalah novel ini
merangkai konflik. Bunga abadi dalam botol berisi air itu telah menjadi
pertaruhan pengarang untuk menguak batin tokoh-tokohnya dan membongkar situasi
sosial yang melingkupinya. Cerita tak akan terbangun seandainya tak ada mitos
yang hadir di sekitar keberadaan sekaca cempaka. Ya, mitos. Sederhananya, ini
cerita tentang pertarungan mitos dengan rasionalitas.
8.9.14
Lampau dan Pelajaran Menulis Novel
M. Nahdiansyah Abdi

Tentu berbeda pengalaman membaca novel antara orang yang mengenal penulisnya secara pribadi dengan orang yang tidak mengenal apapun dari penulisnya kecuali hanya sekedar nama. Menyandingkan kehidupan pribadi si penulis dengan kisah dalam novel, sepertinya akan menjadi tambahan petualangan bagi orang-orang yang mengenal dekat. Pikiran dengan sendirinya akan mengelompokkan mana bagian yang merupakan imajinasi dan mana bagian yang merupakan kisah nyata. Pada kenyataannya, tak ada satu novelis pun yang luput dari menceritakan kisah dirinya. Ada lintasan-lintasan pengalaman atau persepsi yang sangat khas, yang sesekali tersembul dalam cerita, yang berasal dari kehidupan nyata si penulis. Semakin pembaca terlibat dalam kehidupan penulis, semakin tak terelakkan dorongan untuk menelisik itu. Dan jika itu diceritakan atau dituliskan, maka akan menjadi kisah tersendiri yang tak kalah menarik.
Langganan:
Postingan (Atom)









