Laman

19.2.15

6 HAL YANG MENGHANCURKAN KITA

"Hal-hal yang bisa menghancurkan kita:
(1) Kekayaan tanpa kerja,
(2) Pengetahuan tanpa karakter,
(3) Bisnis tanpa moralitas,
(4) Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan,
(5) Ibadah tanpa pengorbanan,
(6) Politik tanpa prinsip."

(Dale Carnegie)

17.2.15

TENTANG KEGIGIHAN DAN TEKAD

"Dunia ini akan penuh dengan gelandangan yang berpendidikan. Kegigihan dan tekad sendirilah yang akan berkuasa"
(Dale Carnegie)

16.2.15

FORMULA UNTUK GAGAL

"Saya tidak dapat memberi Anda formula untuk sukses, tetapi saya dapat memberi Anda formula untuk gagal. Cobalah untuk menyenangkan setiap orang."
(Dale Carnegie)

15.2.15

MENGENALI PELUANG

"Peluang biasanya menyamar sebagai bekerja keras, sehingga sebagian besar orang tidak mengenali mereka"
(Dale Carnegie)

13.2.15

IDE TERBAIK

"Ide terbaik datang sebagai lelucon"
(Dale Carnegie)

"Humor adalah penegasan martabat, sebuah deklarasi superioritas manusia kepada semua yang menimpa dia"
(Dale Carnegie)



Nah, mulai detik ini saya akan rajin memposting celutukan-celutukan buat ngisi blog. Moga berkenan.

29.9.14

Mencari "Idiot"




(Membaca Novel Galuh Hati, Randu Alamsyah)

Oleh M. Nahdiansyah Abdi


































                  

Saya membaca novel Galuh Hati (Moka Media, Jakarta, 2014) dengan dibayangi foto penulisnya di facebook yang diapit dua dara itu. Novel ini mampir ke rumah saya sebab rengekan isteri yang minta dibelikan itu novel begitu terlihat olehnya sampulnya di sebuah koran lokal. Ah, kenapa perempuan suka dengan hal-hal yang nampak kemilau? Saya diberinya uang untuk berburu buku itu ke rumah Harie Insani Putra. Namun buku itu malah dibeli saat ada jualan buku di depan Perpustarda Kota Banjarbaru, beberapa waktu kemudian. Waktu beli buku itu kepergok sama Sandi Firly. Dan diam-diam saya sedikit merasa bersalah karena tidak juga membeli dan membaca novel Lampau yang terbit belum lama berselang.      
            Di rumah, saya desak isteri saya supaya segera membaca, biar kali ini saya berposisi sebagai pendengar saja. Saya geleng-geleng kepala karena ia membaca dari halaman belakang. Saya memprotes: “Apa serunya, kalau begitu!” kata saya. Tak berapa lama ia lemparkan buku itu. Ia ketakutan. Ia merasa ngeri karena di dalamnya ada kisah pembunuhan. Ia memang sensitif beberapa tahun belakangan ini. Sampai kemudian saya mengkhatamkan novel Lampau-nya Sandi Firly, Galuh Hati tetap belum tersentuh.

    

16.9.14

Sekaca Cempaka dan “Mati Jadi Hantu” Kebudayaan Kita



sumber foto: fb harie insani putra, Jum'at 5 September 2014 (bukan Agustus)


(Catatan Kecil Selepas Diskusi Novel Sekaca Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF)
Oleh: M. Nahdiansyah Abdi

Sebuah novel, niscaya, dapat dimasuki lewat pintu mana saja. Seorang pembaca memiliki kecenderungan dan minat terhadap sesuatu hal, dan dengan “sesuatu hal” itulah ia melakukan pembacaan. Barangkali demikianlah kesimpulan dari diskusi novel Sekaca Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF di Aula Perpustarda Kota Banjarbaru, Jum’at malam, 6 September 2014.
Menjadi sah-sah saja ketika Dewi Alfianti mengupasnya lewat wacana-wacana gender, yang lain menyorot lokalitasnya, atau ada beberapa peserta yang merasa terganggu dengan label sastra Islaminya. Tentu, tak ketinggalan, ada juga peserta yang gatal dengan soal-soal teknis. Malam itu, semua hibuk jadi satu.
Dan semua berawal dari Sekaca Cempaka. Dari sekaca cempakalah novel ini merangkai konflik. Bunga abadi dalam botol berisi air itu telah menjadi pertaruhan pengarang untuk menguak batin tokoh-tokohnya dan membongkar situasi sosial yang melingkupinya. Cerita tak akan terbangun seandainya tak ada mitos yang hadir di sekitar keberadaan sekaca cempaka. Ya, mitos. Sederhananya, ini cerita tentang pertarungan mitos dengan rasionalitas.

8.9.14

Lampau dan Pelajaran Menulis Novel



M. Nahdiansyah Abdi


 Tentu berbeda pengalaman membaca novel antara orang yang mengenal penulisnya secara pribadi dengan orang yang tidak mengenal apapun  dari penulisnya kecuali hanya sekedar nama. Menyandingkan kehidupan pribadi si penulis dengan kisah dalam novel, sepertinya akan menjadi tambahan petualangan bagi orang-orang yang mengenal dekat. Pikiran dengan sendirinya akan mengelompokkan mana bagian yang merupakan imajinasi dan mana bagian yang merupakan kisah nyata. Pada kenyataannya, tak ada satu novelis pun yang luput dari menceritakan kisah dirinya. Ada lintasan-lintasan pengalaman atau persepsi yang sangat khas, yang sesekali tersembul dalam cerita, yang berasal dari kehidupan nyata si penulis. Semakin pembaca terlibat dalam kehidupan penulis, semakin tak terelakkan dorongan untuk menelisik itu. Dan jika itu diceritakan atau dituliskan, maka akan menjadi kisah tersendiri yang tak kalah  menarik.



13.4.14

Merenungi Sajak, Menjaga Bumi, Merenda Keakanan

(Perbincangan melebar atas sajak Kalimantan Selatan 2030 Kemudian, karya Micky Hidayat)
Oleh M. Nahdiansyah Abdi

Penampakan penyair Micky Hidayat, waktu muda :)
 
Sebuah sajak yang marah, yang berkabar tentang kehancuran dan tragedi, apa nikmatnya? Bagaimana cara “berdamai” dengan puisi yang gegap gempita menceritakan murka dan amukan alam. Saya tak tahu caranya dan sebenarnya tidak terlalu ingin menghadapi “amukan” kata-kata mengerikan dalam tubuh makhluk yang lembut seperti puisi. Menghadapi orang-orang gangguan jiwa di rumah sakit saja sudah repot. Tapi kalau mau ditelusuri, ada saja penyair yang mau mengolah tema tersebut. Salah satunya adalah penyair Micky Hidayat, yang menulis puisi Kalimantan Selatan 2030 Kemudian. Puisi tersebut dapat ditemukan di antologi “Sungai Kenangan” (ASKS IX, Banjarmasin, 2012). Konon, puisi tersebut merupakan metamorfosis dari puisi SOS Kalimantan Selatan yang terdapat dalam kumpulan “Meditasi Rindu”.     
            Jika merunut lebih awal, di era Pujangga Baru, penyair Amir Hamzah telah pula bertutur tentang huru hara alam. Di sajak Hanya Satu, dalam kumpulan “Nyanyi Sunyi”, si penyair bersenandung:

Timbul niat dalam kalbumu:
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gagap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

dst.

TERIAKAN DIAM DAN KREDO PENYEMBUHAN

Oleh M. Nahdiansyah Abdi*

           
Barangkali tak banyak yang tahu, bahwa saat ini, Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum dipimpin oleh seorang penyair. Muncul pertanyaan: “Bah, siapa pula yang mengangkat dia jadi penyair?” atau pertanyaan-pertanyaan sejenis. Lupakan sejenak pertanyaan yang sejak dulu jadi perdebatan itu. Setidaknya dokter lulusan Universitas Airlangga ini telah menelorkan sebuah buku kumpulan puisi. Judulnya Teriakan Diam. Diterbitkan Bali Kauh Publising, Bali, pada Januari 2011. ISBN: 978-602-98344-1-3. Buku dengan sampul hard-cover dan di dalamnya pun memakai kertas luks yang licin macam kertas majalah itu, dihantar oleh tulisan Nanoq da Kansas, penyair yang tinggal di Jembrana, Bali.
            dr. IBG Dharma Putra, MKM, demikian nama si empunya buku. Lahir di Banjar Tengah, Negara, Jembrana, Bali, pada 1 Maret 1961. Memulai karir sebagai dokter atau kepala puskesmas (?) di desa Kurau, Kabupaten Tanah Laut. Nasib mengantarkannya ke berbagai rupa-rupa jabatan, di berbagai kota di Kalimantan Selatan, hingga terakhir menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai). Buku Teriakan Diam diterbitkan dalam masa itu. Namun, terhitung sejak 1 Desember 2013, ditarik ke provinsi dan diangkat menjadi plt. Direktur RS Jiwa Sambang Lihum. Dan setelah ini, entah ke mana lagi.
           
Dunia tulis-menulis sudah tak asing lagi bagi dokter berkumis lebat ini. Ia merupakan kolumnis tetap di Tabloid Berita Mingguan Jembarana Forum. Dari tulisan-tulisan itu sebagian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku. Maka lahirlah “Silat Lidah”, kumpulan artikel seputar otonomi daerah dan “Catatan di Atas Pasir”, yang merupakan kumpulan kolom yang pernah ditulisnya. 
            Ada 44 (empat puluh empat) puisi dalam kumpulan Teriakan Diam. Sebagai kumpulan puisi debutan, barangkali puisi-puisinya tak terlalu istimewa. “Aku ingin seperti Renda walau tak sampai/Ingin pula meniru Tardji, Goenawan dan Emha/Kadang ingin jadi Taufik/Dan sering sok Chairil Anwar, ” tuturnya dalam sajak Puisiku Sepi. Para pencari “efek kejut” dari puisi, dalam sekali baca, barangkali tak akan menemukan apa-apa di sini. Tinimbang membincangkan puisi, saya lebih tertarik dengan esai yang ditulisnya untuk buku ini. Judulnya Kredo Penyembuhan.            
“Puisi seharusnya punya kegunaan pragmatis di samping makna filosofi yang dikandungnya. Tanpa hal tersebut maka puisi hanyalah kegenitan pengisi waktu luang yang sia-sia,” tulisnya di paragraf awal. Setelah itu, secara panjang lebar dijelaskan tentang interaksi jiwa, badan (wadag) dan lingkungan kehidupan. Dikatakan bahwa jiwa adalah inti dan bagian holistik dari kehidupan. Jiwa adalah abadi dalam pengembaraan filosofis kosmis untuk mencari sumbernya. Dan dalam kehidupan, jiwa ikut ambil bagian dalam alam kehidupan yang nyata. Pertemuan jiwa dengan domain holistik kehidupan adalah takdir dan kenyataan, tulisnya.

         

KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN, SEBUAH CATATAN*

Oleh: M. Nahdiansyah Abdi

Kita hidup dalam budaya lisan yang kental. Kelisanan itu muncul dari pelisan, sebagai aktor utama, dan penonton, di sisi yang berseberangan. Budaya menonton telah menjadi bagian dari hidup kita. Seni tradisi kita hanya dipenuhi tontonan. Seni tari, seni musik, seni drama, niscaya mensyaratkan hadirnya penonton. Madihin, mamanda, bakisah, balamut, basyair, musik panting, aneka tarian, memiliki kegairahan dengan adanya penonton. Jadilah ketika televisi hadir, tradisi menonton kita menemukan oasenya. Televisi hadir 24 jam, memungkinkan kita mengatur waktu untuk memelotinya sesuai dengan waktu lowong kita. Jangkauannya luas, melintasi berbagai ruang dan waktu.  Acara hari ini, bisa ditayang esok hari, dan esok lagi, dan esok lagi, dan bertahun-tahun kemudian hingga menjangkau manusia yang akan datang.   
          

JALAN MENUJU GUMAM

Oleh M. Nahdiansyah Abdi


Gumam kepada sate... :) Mantap!





Empat buku gumam telah diluncurkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), yaitu Negeri Benang pada Sekeping Papan (2008), Tubuh di Hutan-hutan (2009), Istana Daun Retak (2010), dan Bungkam Mata Gergaji (2011). Sampai saat ini, penulisnya masih bersikukuh bahwa gumam adalah genre tersendiri, terlepas dari beragam komentar yang memuji dan menyangsikannya. Bagi saya sendiri, hanya ada satu pintu masuk untuk memahami gumam, yaitu kata “gumam” itu sendiri. Orang barangkali kesulitan mengidentifikasi jenis kelamin gumam. Dikatakan puisi bukan, dikategorikan prosa juga tak tepat. Ada orang yang melihat ciri gumam dari kerumitan dan kemampuannya dalam jungkir balik bahasa, yang tentu, membuat lelah pembacaan akibat abstraksi ide yang berlebihan1. Yang lain menyebut gumam sebagai karya yang asimetri, disharmonis, dan menggambarkan adanya dekonstruksi. Dikatakan, Gumam ASA sengaja didesain tidak teratur sebagai dasar estetiknya2. Pernyataan-pernyataan itu barangkali benar adanya. Namun, tak sedikit bagian dari gumam yang runtut, teratur, dan harmonis. Sepertinya gumam ingin melanggar semua batasan-batasan yang ada. Ia bisa sangat puitis, bila sangat prosais, namun juga bisa sangat gelap.

19.6.12

2 Puisi Saya

REFLEKSI

Tubuh dan hidupku adalah monumen
dari hutang yang tak kan bisa terbayarkan

Seberapa keras aku menyicil
lebih terdengar sebagai lelucon saja

Hutang yang kian membengkak
setiap bertambah sekon

yang menyebabkan
aku tergolek lemas oleh rasa syukur

Aku hidup dengan nafas buatan
langsung dari mulutMu

dan matiku pun, tidak bisa tidak,
akan di pangkuanMu

Bolehkah sekarang
aku menangis, Tuanku?

Karanganyar 2, 20 Juni 2012
M. Nahdiansyah Abdi

28.4.12

PANTUN DAN SONETA CHAIRIL ANWAR


Oleh M. Nahdiansyah Abdi*


Tanggal 28 April selalu diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia. Mengenang hari tersebut tentu saja tak bisa lepas dari sosok Chairil Anwar karena tanggal kematiannyalah yang dijadikan penanda. Chairil sering digambarkan sebagai pendobrak dan pembaharu puisi di Indonesia. Tak jarang ia digambarkan sebagaimana bait puisinya sendiri: sebagai binatang jalang. Puisinya dianggap keluar dari kecenderungan umum zamannya, yang tertib pola, dan menjelma menjadi sajak bebas yang tak terikat. Bahkan Sapardi Djoko Damono, tidak menyarankan mempelajari puisi-puisi Chairil bagi pemula untuk menghindari terciptanya sajak emosional yang tidak terjaga.1 Ya, Chairil telah terlampau identik dengan puisi Aku-nya.
            Berlawanan dengan ingatan massa yang mengenang Chairil sebagai sosok yang meradang-menerjang, saya ingin mengenang Chairil sebagai seorang yang tertib. Seorang yang rapi jali. Tentu lewat karya-karyanya. Ini sebenarnya mengejutkan saya juga: ternyata Chairil menulis pantun dan soneta. Bentuk-bentuk puisi jadul yang bahkan di zaman itu sudah dianggap ketinggalan. Namun setelah diserapi dan direnungi, saya menangkap nilai simbolik di balik pantun dan soneta Chairil. Saya menangkap ketegangan dan pergulatannya dalam merumuskan keindonesiaannya, lebih khusus lagi, merumuskan dirinya sendiri di tengah peradaban-peradaban kemanusiaan.  

10.9.11

Doa Banyu Mata dan Bawah Sadar Kolektif Orang Banjar (Sebuah Perjalanan Mencari “Banjar”)

Oleh M. Nahdiansyah Abdi

Kada karasaan banyu mata kilirkiliran
Dalam hati maingui doa
Ma
Bah
Ulun tulak
Handak manuntut ilmu di banua urang
Sangui banyakbanyak ulun
Lawan doa pian badua
 (Doa Banyu Mata, 1979)


Tanggal 4 Agustus 2011, hari keempat bulan Ramadhan, saya menerima buku dengan kover berlatar hijau tua itu, yang setiap sudut-sudutnya penuh tetesan air (sepertinya) hujan. Lewat kemurahan hati seorang teman, di singgasananya yang mungil, kantor Tahura Media di bilangan Jalan Sultan Adam. Ya, sebuah kumpulan puisi Bahasa Banjar berjudul Doa Banyu Mata oleh Abdurrahman El Husaini. Membaca puisi yang tampil menjadi judul buku di pembuka tulisan, terbentanglah sebuah pengalaman yang sangat personal. Sebuah perpisahan seorang anak yang ingin menuntut ilmu. Peristiwa akan madamnya satu anak manusia, atau dalam bahasa penyairnya: “Pas basalaman handak turun pada rumah”. Sebuah pembuka yang cantik, saya kira, yang ingin saya sebut perjalanan mencari banjar di dalam diri.

28.7.11

CERMIN KEDUA

-->
Oleh M. Nahdiansyah Abdi

Saya ingin membuka risalah kecil ini dengan sebuah kutipan cerita dari novel “Alkemis” karya Paulo Coelho. Diceritakan sepeninggal Narsiscus, tokoh mitologi Yunani yang tergila-gila dengan dirinya sendiri itu, danau tempat ia biasa bercermin mendadak asin. Rupanya danau itu menangis karena ditinggalkan Narsiscus sehingga berubah menjadi danau airmata. Peri-peri hutan yang mendengar isak tangis itu menjadi iba. Mereka mencoba menghibur, “Sudahlah, danau. Jangan kau bersedih. Kami tahu Narsiscus memang tampan, sehingga kau merasa berat kehilangan dia.” Danau menjawab,”Saya memang merasa kehilangan dia, tapi saya tak tahu kalau Narsiscus itu tampan.” Peri-peri hutan heran,”Bagaimana bisa, bukankah kau yang setiap hari menyaksikan Narsiscus duduk berlutut di depanmu untuk bercermin?” “Saya benar-benar tidak tahu, saya hanya tahu bahwa setiap kali Narsiscus bercermin, saya melihat di kedalaman matanya, pantulan diri saya yang indah,” jawab danau dengan mata yang sembab.