Pemetik Makna

Hening

SASTRAWAN PLAGIAT VS SASTRAWAN GILA HORMAT



Oleh M. Nahdiansyah Abdi


Dalam jagat kesusastraan, setidaknya ada dua penyakit kronis yang bisa menjangkiti si sastrawan, yaitu plagiat dan gila hormat. Bagi sementara orang, hal ini bisa jadi menjijikkan tapi mungkin juga menggelikan. Ketimbang menghujat dan menghakimi, penulis tertarik untuk mencari tahu apa yang melatarbelakangi seorang sastrawan melakukan tindak plagiat di satu sisi dan di sisi lain, tergila-gila pada penghormatan. Tulisan ini juga merupakan apresiasi terhadap tulisan Mahmud Jauhar Ali di RB, Maret 2009, yang bertajuk Anti Kritik Memadamkan Cahaya Pengetahuan.

Plagiat
Dalam hiruk pikuk dunia sastra, kadang muncul kasus-kasus plagiat. Berbeda dengan kasus pengaruh atau copy master yang mengusung kode etik, kasus plagiat minim, bahkan meniadakan ekspresi pribadi. Yang terbaru, saya temukan di sisipan Kaki Langit majalah Horison edisi Desember 2008. Dua puisi siswa dari sebuah daerah di Kalimantan Selatan mencaplok puisi Gugur karya WS. Rendra dan puisi Kasidah Kemerdekaan karya Eza Thabry Husano. Luasnya belantara sastra memang menyulitkan pelacakan, namun anehnya, perbuatan yang berakibat meruntuhkan integritas itu, selalu saja ketahuan. Terakhir saya dengar kabar, kasus ini sudah diselesaikan dan terhadap siswa yang bersangkutan telah dilakukan pembinaan.

Kebanyakan kasus plagiat dilakukan oleh – meminjam istilah TNG – sastrawan muka baru. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi juga pada mereka telah lama berkecimpung dalam dunia sastra, hanya mungkin caranya tidak konyol. Mereka beroperasi di ranah yang berbeda, lintas kultur / negara, sehingga menyulitkan pelacakan. Helvy Tiana Rosa pernah melontarkan pernyataan bahwa ada cerpennya yang dijiplak oleh seorang mahasiswa S2 di Malaysia. Pertanyaannya sekarang, apa yang membuat seseorang berani mengambil risiko melakukan plagiat? Keuntungan apa yang diperoleh? Nilai yang tinggi? Pengakuan? Atau ada penjelasan lain yang bermuara pada struktur kepribadiannya?

Gila Hormat
Penyakit yang satu ini paling banyak diidap oleh – lagi-lagi meminjam istilah TNG – sastrawan muka lama. Ke mana-mana ia selalu berkoar tentang kehebatan diri sendiri. Bila dikritik marah, bila dihargai senang bukan kepalang, bila dicueki memasang tampang masam (merangut). Orang-orang terdekat akan mudah menebak ke mana arah pembicaraannya, tiada lain selain ujung-ujungnya membangga-banggakan diri sendiri. Berkoar tentang prestasi dan jerih payahnya selama ini.

Penghormatan adalah hal yang terjadi secara alami bila kita telah bekerja dengan baik dan sepenuh hati. Namun dalam dunia tulis menulis, penghormatan adalah hal yang absurd. Semacam oase tempat singgah sebentar mengisi kantong minum untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanan sunyi. Menyeret kaki di padang gurun teks-teks. Sendirian.

Mereka yang gila hormat, mencari kehormatan seperti anak kecil yang merajuk. Naif. Menggelitik saraf tertawa kita. Namun lama kelamaan menjengkelkan juga.

Gangguan kepribadian narsistik
Saya cenderung menempatkan plagiat dan gila hormat sebagai manifestasi dari gangguan kepribadian narsistik. Kata Narsis sendiri diambil dari nama tokoh mitologi Yunani yang tergila-gila dengan diri sendiri. Dalam pembahasan psikoanalisa, seperti yang diungkapkan James P. Chaplin (1981), narsisisme merupakan satu tingkat awal dalam perkembangan manusiawi yang dicirikan secara khas dengan perhatian yang berlebihan kepada diri sendiri, dan kurang atau tidak ada perhatian pada orang lain. Narsisisme ini bisa terus berlanjut sampai memasuki masa dewasa sebagai satu bentuk fiksasi (kemandegan).

Dalam International Classification of Diseases (ICD-10) yang dikeluarkan oleh WHO tahun 1992, gangguan kepribadian narsistik termasuk dalam other specific personality disorder dengan kode F60.8. Gambaran utamanya: Ketidakmampuan untuk mempertahankan dan mengatur secara memuaskan harga diri, menimbulkan pola berpikir dan perilaku maladaptif, fantasi membesarkan diri, perilaku berhak, eksploitivitas antarpribadi, tidak adanya empati, dan kepekaan berlebihan terhadap kritik. Ciri-ciri pembedanya, kerapuhan harga diri, kepentingan diri yang ditonjolkan, selalu mencari pujian.

Sebagaimana gangguan kepribadian lainnya, pengujian realitasnya utuh. Taraf gangguan dari ringan sampai sedang. Seorang narsis hanya mengalami gangguan fungsi (bukan kesukaran intrapsikis), yang dapat menimbulkan konflik antarpribadi. Ia dapat juga memiliki gejala ansietas dan depresi. Jadi, secara sosial, hubungan yang terjalin dengan penderita narsis adalah hubungan yang dangkal dan bertujuan meningkatkan status dan kepentingannya saja. Ia akan kesukaran mengembangkan usaha kooperatif yang didasarkan pada sifat berbagi dan simpati. Fungsi bahasa bagi mereka, lebih merupakan sarana untuk melepaskan ketegangan dan bukan bermakna murni sebagai komunikasi.

Di seputar rasa iri, kemungkinannya ada dua, ia akan mudah merasa iri dengan keberhasilan orang lain atau ia yakin orang lain merasa iri dengan dirinya. Ciri lain yang mungkin, bisa terlihat dari penampilan yang dilebih-lebihkan, yang menunjukkan penentangan terhadap adat/kebiasaan. Bisa dari pakaian, gaya rambut, atau asesoris lainnya sebagai cara untuk menunjukkan sifat ekshibisionistik dan kemahakuasaan. Cinta pada dirinya bisa menjadi lebih berstruktur hingga menimbulkan dorongan megalomania.

Jika dibiarkan berlarut-larut, akan mendorong timbulnya episode regresif (kemunduran) dengan ketakutan akan hilangnya objek kasih sayang (tanda-tanda paranoid), meskipun regresinya tidak sedalam pasien borderline atau skizofrenia. Lebih celaka lagi jika narsisisme ini menjangkiti suatu komunitas atau masyarakat atau bahkan bangsa, dimana ia beroperasi di wilayah apa yang disebut oleh Carl Jung sebagai wilayah ketidaksadaran kolektif. Terutama jika yang terjangkiti adalah para elitnya, sehingga masyarakat bawah ikut terseret-seret. Maka jadilah masyarakat atau bangsa itu pongah, merasa paling berjasa, merasa paling benar, menutup telinga dari masukan-masukan, anti kritik (memandang kritik sebagai ancaman), menonjolkan kepentingan sendiri secara berlebihan.

Kesimpulan
Plagiat dan kecenderungan yang berlebihan terhadap penghormatan merupakan tanda dari kerapuhan harga diri. Pujianlah yang dicarinya. Kritik dipandangnya sebagai upaya pembunuhan karakter. Maka apapun hubungan yang dijalin akan bersifat ekploitatif dan penuh kecurigaan.Benar-benar situasi yang tidak nyaman dan penuh permusuhan. Berkacalah, jangan-jangan benih narsisisme bercokol dalam diri kita. Ingatlah selalu himbauan Bang Napi dari balik jeruji besi: Waspadalah! Waspadalah!

Supaya cair dan supaya mereka yang terlanjur tersinggung tak jadi marah karena tulisan ini dianggap memukul terlalu telak, maka saya akan mengutip puisi indah dari Penyair asal Batola, Rizhanuddin Rangga:


Telan rapat amarahmu
meski mambigi kadundung
jangan sisakan di kerling mata

Telan rapat amarahmu
biarkan membatu atas dada
redam dalam darah
uapkan keringatmu
bersama kicau pagi
atau kepak ria kupu-kupu

Telah rapat amarahmu
cermini kambang jambu
atas hitam rambutmu


(Kepada Kawan, Oktober 2008)


Banjarmasin, 18 Maret 2009



Read More......




Ini photo saya waktu kuliah di Psikologi UGM, lupa tanggal pemotretannya. Entah tahun 1998 atau 1999 atau 2000 atau 2001 atau 2002.

Duduk di atas, dari kiri ke kanan: M. Luthfi Fathan Dahriyanto (rambutnya dowo, je...), Amrihana M. Rahmat (Yang terakhir itu nama Bapaknya, kreasinya sendiri, ga ditasmiahin), M. Fatan Ariful Ulum (suka menyingkat nama menjadi emfau).
Duduk di bawah, dari kiri ke kanan: Danu Widigdo Usadani (Anak Gunung Kidul, paling muda di antara kami), dan Saya M. Nahdiansyah Abdi (ga ada komentar, hehe...)

Read More......

DEWI ALFIANTI SEDANG MENUNGGU

Kau berdiri di antara serumpun bougenville, di depan rumahku

Sudah lama kau berdiri di sana

Tubuhmu serupa bougenville, tipis dan ragu


(Bougenville)


"Bagaimana kau bisa demikian buta," katamu senja itu

Telunjukmu menantang langit

"Di sela langit warna bara, salju akan turun," bujukmu

setengah memaksa


(Salju Turun di Senja Martapura)


Kutulis ulasan ini dengan semangat mahabui yang meluap-luap. Berawal dari keterpesonaanku pada 2 puisi yang kukutip sebagian di atas. (Kedua puisi itu ada dalam Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalsel 2008, Tarian Cahaya di Bumi Sanggam. Hasil kerjasama Pemkab Balangan dengan Panlak Aruh Sastra V Kalsel). Seperti ada sesuatu yang menyatukan kedua puisi itu. Demikian perasaanku berkata. Aku membaca lagi dengan perlahan-lahan. Eureka. Ada satu kata, seakan seluruh kata tersedot ke sana: Menunggu!


Tapi kau bukan bougenville

Hingga tetap saja kau berdiri di luar rumahku

Menunggu, entah apa


(Bougenville)


Rasanya seperti ratusan tahun

Senja bahkan mengenali siluet tegap di tepi dermaga

Bayanganmu

yang setia menatap lurus ke ufuk langit

Menanti salju


.........

Tapi kau terus saja menunggu

Menatap matahari yang mulai meninggalkanmu


(Salju Turun di Senja Martapura)


Ada alasan yang dibuat secara sadar kenapa puisi itu yang dipilih untuk mengisi bunga rampai. Namun, aku juga percaya, bahwa pilihan bawah sadar turut ambil peranan secara diam-diam di sana.


Lantas aku teringat tulisan Budi Darma di Horison. Ia mengutip Wellek dan Warren dalam buku Teori Kesusatraaan (Gramedia, 1989. Terjemahan Melani Budianta). Dikatakan bahwa ada 4 kemungkinan mengapa sastra dan psikologi akhirnya dapat tumpang tindih. Pertama, sastra tidak lepas dari psikologi sastrawannya; kedua, proses kreatif sastrawan tidak bisa lepas dari psikologi; ketiga, ternyata hukum-hukum psikologi dapat diterapkan dalam sastra, dan; keempat, sastra ternyata mempunyai dampak psikologi terhadap pembaca. Maka, muara empat kemungkinan itu berpusat pada sastrawan sebagai tokoh sentral lahirnya sastra.


Lalu aku berpikir tentang Dewi yang sedang menunggu. Dewi sedang menunggu, entah apa. Kemudian aku terpancing untuk memikirkan berbagai kemungkinannya. Mungkinkah Dewi menunggu saat yang tepat untuk menerbitkan karya-karyanya dalam sebuah buku? Atau Dewi sedang menunggu saat-saat melegakan di tengah kesuntukan menyelesaikan S2? Atau menunggu sebuah pekerjaan yang prestisius sebagai simbol kemandiriannya? Atau Dewi sedang menunggu seorang laki-laki pemberani datang untuk mengajaknya naik ke kursi pelaminan? Sepertinya aku condong ke kemungkinan terakhir.


Kenapa aku mengambil kesimpulan seperti itu? Kali ini cerpen-cerpennyalah yang bicara. Saat memutuskan untuk menulis ulasan tentang 2 puisi Dewi di Tarian Cahaya, tak terbayangkan kalau akhirnya harus membongkar cerpen-cerpennya juga. Terbayang betapa beratnya. Tapi sudah kepalang basah. Dengan mengandalkan ingatan dan beberapa koleksi cerpennya, kuputuskan untuk terus mencebur dengan risiko mati lamas. Cerpen-cerpen itu, antara lain:

  1. Nyanyian tanpa Nyanyian (dalam kumpulan cerpen pengarang perempuan Kalsel, Nyanyian tanpa Nyanyian, Tahura Media, 2008 / RB, 2 September 2007)

  2. Humanis (RB, 4 Desember 2005)

  3. Saya tidak bisa memasak (RB, 9 Maret 2008)

  4. Lelaki tanpa Laut (Jurnal Sastra Kindai, 1 Desember 2008)

  5. Ujung Musim Penghujan Kali ini Kiranya, Aku Pulang (RB, 2 Nopember 2008)

  6. Hujan Terakhir (Antologi sastra Bunga Penyejuk Hati, PBS FKIP UNLAM dan DIVA Press, Banjarmasin-Yogyakarta, 2007)


Tak dinyana, kesemua cerpen-cerpen itu mengungkapkan pandangannya terhadap lembaga perkawinan. Munculnya kadang tidak terang-terangan, tapi tersimpul rapi dalam pelbagai simbol. Ada sejumlah ketakutan dan atau kecemasan, harapan dan idealisme, saat berhadapan dengan salah satu tugas perkembangan penting di awal masa dewasa itu. Tentu saja tiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang pernikahan, nilai pentingnya, penghormatannya, yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang tercerap. Dalam pada itu, cerpen-cerpen Dewi banyak mengungkapkan sosok lelaki yang dimaui dan situasi seperti apa yang diharapkan dalam kehidupan perkawinannya.


Cerpen Humanis

Bagiku, cerpen ini cukup vulgar mengungkapkan sosok ideal seorang laki-laki, laki-laki yang diingini Dewi untuk mendampingi hidupnya. Langsung pada tokoh utama: seorang dosen muda yang cerdas! Jadi, inilah antara lain kriterianya: penuh semangat dan pembawa perubahan, namun santun, mengedepankan sisi kemanusiaan, syukur-syukur tampan dan dan menjadi idola para gadis (walaupun yang terakhir ini mengesalkan). Petikan-petikan berikut akan memberitakan hal itu:


Paragraf 1 : Dia seorang lelaki yang begitu pasti dengan langkah yang tegap di atas debu yang menguap di antara langkah kakinya. Begitu menghargai hari dengan memberi sore ayunan langkah yang luap dengan semangat.


Paragraf 8: Kawan-kawannya selalu mengganggapnya lembut. Pria santun yang lembut, seperti tak menyisakan dendam.


Paragraf 21: Semua tahu ia seorang yang membawa semangat dan perubahan baru. Semua yang terasa mustahil dikerjakan, mampu diwujudkannya dengan baik. Tapi semua juga tahu seberapa tolerannya dia pada bermacam kesalahan. Lebih memilih untuk tidak mengangkat suatu perkara ke permukaan jika itu terkait dengan keberlanjutan kehidupan seseorang.


Paragraf 22: Mahasiswinya masih memandanginya dengan pandangan yang sama ketika ia memasuki ruang kuliah, ia pun masih beranggapan sama, ketampanan yang salah tempat.


Kupikir, kecerdasan menjadi poin penting, untuk mengimbangi derasnya wacana-wacana dalam kepala Dewi. Demikian juga kelembutan, untuk meredam hal-hal yang tidak diinginkan jika sewaktu-waktu Dewi menjadi liar dalam berpikir, bersikap atau bertindak.


Cerpen Nyanyian tanpa Nyanyian

Dalam bahasan psikologi, figur ayah yang baik merupakan figur referensi bagi anak perempuan untuk mencari pasangan hidupnya. Sedangkan ayah yang jahat, menjadi informasi awal yang buruk tentang sosok laki-laki secara keseluruhan. Jika tak ada informasi baru yang mengintervensi, akan timbul keyakinan bahwa semua laki-laki jahat dan terkutuk. Di cerpen Nyanyian tanpa Nyanyian, Dewi memunculkan figur ayah yang baik untuk menitipkan pesan pada setiap laki-laki yang ingin menikahinya. Ini kriterianya: Bijaksana, tegas, lembut, penyayang terhadap keluarga, dan (ini yang berat) kau harus setia sepanjang hayatmu. Petikan berikut akan menguatkannya:


Paragraf 4: Ayah, demikianlah. Dialah wujud kebijaksanaan dalam diri seorang laki-laki.


Paragraf 25: Tapi beliau juga tahu betul apa arti cinta, sesuatu yang mengendap dalam hati yang tak bisa dibuang begitu saja. Sesuatu yang akhirnya membuatnya tetap tak menikah sepeninggal ibu.


Paragraf 32: Buatku ayah begitu luar biasa. Kokoh seperti beringin, lentur seperti pohon bambu.


Paragraf 37: Sungguh aku merasa begitu lega dalam pelukan ayah.


Cerpen Saya tidak Bisa Memasak

Aku tidak tahu apakah Dewi sungguh bisa memasak atau tidak. Yang jelas, aku sepakat dengan Annisa Soraya dalam tulisannya di Radar Banjarmasin, 18 Mei 2008, bahwa cerpennya ini merupakan satu karya yang enak untuk dinikmati.


Lebih jauh, aku melihat cerpen ini berisi kekhawatiran Dewi akan pola hubungan atau relasi dalam kehidupan berumah tangga. Mampukah sang lelaki bersikap dengan penuh pengertian, memahami segala kekurangan-kekurangan wanitanya dan bantu membantu dalam sebuah proses belajar. Kupikir cerpen ini berisikan warta bahwa Dewi tidak akan optimal menjalankan peran-peran domestik. Entah merasa tidak mampu atau kurang tertarik. Kadang aku berpikir bahwa peran-peran domestik kurang diminati oleh perempuan-perempuan yang cerdas. Mereka lebih suka menegaskan eksistensi di luar, dalam peran-peran publik. Dan ini tentu saja memiliki konsekuensi. Bagi Dewi, adakah laki-laki yang paham itu dan mau bertoleransi?


Cerpen Ujung Musim Penghujan Kali ini Kiranya, Aku Pulang

Inilah cerpen pemenang lomba di Aruh Sastra V, Balangan. Masih menitipkan pesan buat laki-laki di seberang sana, calon mempelai laki-laki Dewi, agar tidak membawa cinta terdahulu. Di cerpen ini, Dewi mengecilkan diri sedemikian rupa (sebagai simbol ketakutan dan kecemasan) menjadi tokoh figuran yang dikhianati dan dibohongi, yaitu Maya, isteri Arfani. Di sini Dewi memaparkan kekalutan dan ketakutannya pada salah satu kelemahan dasar banyak lelaki: tak bisa melupakan cinta masa lalu dan cenderung mendua hati (kalau tidak mencabang dengan rimbun ke mana-mana).


Cerpen Hujan Terakhir

Di antara semua cerpen Dewi, cerpen ini yang terakhir kubaca karena aku mendapatkannya juga baru saja, yaitu saat menulis ulasan ini. Hampir-hampir kuabaikan begitu saja karena kupikir tak mendukung tulisan ini. Figur laki-laki yang muncul hanya menjadi penggembira yang tak penting. Cerpen ini bercerita tentang persahabatan Salma dan Edelweis.


Hari berlalu dan di suatu momen yang tak terduga di saat santai, aku kaget. Kaget dengan pikiran yang mendesak tiba-tiba. Bukankah perkawinan, sebagaimana persahabatan, adalah sesuatu yang dibangun atas banyak perbedaan? Ya. Dinamikanya serupa. Buru-buru kubaca lagi cerpen itu dan kutemukan kutipan-kutipan berikut:


Paragraf 5: Setiap orang memiliki belahan jiwa, dan dia adalah belahan jiwaku.


Paragraf 8: Aku mendapati Edel sebagai sahabatku setelah terbiasa bersama-sama. Kebersamaan bisa menumbuhkan rasa, dan begitulah kami.


Paragraf 8: Dia punya karakter kuat. Cuma orang berkarakter kuat yang bisa mengimbanginya untuk bisa bertahan bersamanya.


Paragraf 16: Kami sering berbeda sudut pandang, sering mengalamai pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi semakin panjang usia persahabatan kami, semakin kami saling memahami bahwa perbedaan bukan sebuah masalah.


Paragraf 16: Edel suka matahari terbenam sedangkan aku suka matahari terbit. Dia menyukai lukisan ekspresionis, aku suka lukisan realis. Aku sangat menyukai hujan, dia tidak.


Demikianlah, sesuatu yang sepertinya baik-baik saja ternyata menyimpan kecemburuan dan dendam. Perbedaan yang diagung-agungkan ternyata menimbulkan ketidaksetaraan dan permusuhan. Dan pertanyaan, kalau tidak kebingungan. Perhatikan petikan berikut:


Paragraf 27: Semua bertentangan dengan apa yang selama ini kupahami dan kuyakini.


Paragraf 28: Kenapa dia menyikutku sampai jatuh saat kami menyeberang jalan. Apakah dia tidak melihat mobil di depan kami yang melaju kencang. Apakah dia sengaja? Atau tidak sengaja?


Paragraf 29: Kupikir aku tak benar-benar mengenalnya. Tapi dia juga sahabat yang begitu kukenal.


Kehidupan perkawinan bisa jadi lebih rumit. Kita sering merasa mengenal pasangan kita karena posisinya yang dekat namun ternyata ada sisi lain yang tak terkuak. Sangat tepat ungkapan Orang yang paling kita cintai berada di posisi yang tepat untuk menyakiti kita. Keputusan Dewi untuk mematikan tokoh aku, menyiratkan ketidakmauannya untuk berkompromi dalam masalah ini. Ia menyimpan ketakutan. Ia menciptakan jebakan psikologis untuk selama mungkin menunda perkawinannya meskipun lingkungan mendesak untuk menyegerakannya. Walaupun ia berkata ingin, sebenarnya batinnya tidak. Ia tidak siap untuk disakiti dan dikhianati.


Cerpen Lelaki tanpa Laut

Anggaplah Dewi meneguhkan hati untuk menikah dan kebetulan menemukan lelaki sempurna yang dicintainya, maka risiko berikutnya menanti: risiko kehilangan. Kehilangan yang membuat sedih tak berujung. Di cerpen ini, Dewi menyiksa tokoh Misna sedemikian rupa. Mari kita perhatikan kutipan-kutipan berikut:


Paragraf 12: "Iya. Ka Ulis beberapa kali mengirimi Misna surat. Dia... Dia sering membawakan ganggang laut cantik untuk Misna saat pulang berlayar."


Paragraf 12: "Sebenarnya Misna juga menyukainya, Bu. Tentu saja Misna tidak keberatan jika dikawinkan dengan Ka Ulis."


Paragraf 14: Tapi kebahagiaan tak pilih kasih, dengan kesederhanaan wajah ka Misna yang manis jadi semakin berbinar saja, di sampingnya duduk ka Ulis dengan mata yang terus memandangi istrinya. Ka ulis memuja kakakku.


Paragraf 16: Wajah ka Misna berubah pucat. Digenggamnya erat tangan ka Ulis, suaminya, seolah takut akan ditinggalkan. Malam itu kebahagiaan ka Misna menguap dengan cepat.


Paragaraf 21: Apa yang bisa diharapkan dari perempuan rapuh yang kehilangan cinta? Kesehatan ka Misna menurun, dan yang paling menyakitkan bagiku, kesadarannya juga menurun. Sebulan setelah kematian ka Ulis, dia tak lagi mengenaliku, ayah dan ibu. Hatiku benar-benar hancur.


Paragraf 23: Hari ini aku pulang, meski tempat ini menorehkan luka yang takkan sembuh. Hari ini pemakaman ka Misna. Setelah bertahun-tahun menderita, akhirnya keterasingannya benar-benar membawanya pergi dan tak pernah kembali.


Perempuan yang rapuh itu disiksa sedemikian rupa dengan kegilaan dan kematian hanya gara-gara kehilangan lelaki pujaannya. Mungkin inilah tipikal perempuan yang setia versi Dewi, setia hingga ke ujung hayat. Sedangkan tipikal laki-laki yang setia, seperti yang disiratkan dalam cerpen Nyanyian tanpa Nyayian, dia tetap tak menikah sepeninggal isterinya dan terus dihidupkan untuk mengasuh anak-anak.


Kesimpulan cerpen

Pernikahan dan kehidupan keluarga, akan dipersepsikan berbeda-beda di setiap jaman dan kondisi tempatan. Tapi sebagai tugas perkembangan penting, ia menjadi pintu bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Bagi seorang Dewi, wilayah itu mungkin menyimpan kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan. Ketakutan itu antara lain: 1) Takut mendapat pasangan yang tidak berkarakter, letoy, atau kasar, 2) Taroh kata mendapat pasangan yang setara, takut berikutnya adalah takut tidak mampu berbagi peran dengan adil, 3) Takut jika pasangan masih tercocok hidung dengan cinta lama, 4) Takut jika dalam kehidupan berkeluarga tidak terbuka dan menyimpan permusuhan, 5) Takut kehilangan dengan begitu cepat.


Dewi di simpang jalan. Ia menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Kakinya tak beranjak namun pikirannya berputar-putar. Ia mungkin gemetar memasuki wilayah asing ini, sebagaimana banyak orang mengalaminya. Antara desakan dan jebakan rasa takut yang diciptakannya sendiri. Ia memilih menunggu.


Demikianlah, menikah adalah sebuah pilihan, sebagaimana tidak menikah atau menunda pernikahan adalah juga sebuah pilihan. Namun, setiap pilihan memiliki risiko. Kita bebas memilih pilihan apapun namun tidak bebas memilih risikonya.




Kembali ke puisi

Aku penasaran dengan sajaknya yang lain, maksudku ingin mencari adakah kata menunggu di sana. Dalam antologi sastra Bunga Penyejuk Hati, ada dua sajak, yaitu Sebuah Percakapan, dan Ini Chairil dan Seorang Perempuan Tua di antara Runtuhan Rumah, Jasad Suami serta Anak Lelakinya Di Rafah. Dalam Antologi Kau tidak akan pernah tahu rahasia sedih tak bersebab, ada satu sajak, yaitu Pengembaraan Jukung. Ternyata aku menemukan hal lain. Kesemua sajak-sajaknya ternyata memiliki tokoh dan latar, dan keduanya berkolaborasi menciptakan sebuah gerak yang dramatik, entah gerak fisik yang kasar atau gerak statik yang lembut.


Atau, perlahan kau menjelma Bougenville lain berwarna pudar

Yang tiba-tiba tumbuh di depan rumahku

Hari ini

(Bougenville)



Tahukah kau, anakku

Airmatamu yang menitik sesaat kau tinggalkan tempat ini

Serupa salju, menderai ditampar angin tepi sungai ini

Martapura

(Salju Turun di Senja Martapura)



Seorang renta di tepi dermaga

Menatap bayangan kota yang ditelan kelam

Pikirannya masih pergi berkelana

Mencari jukung-jukung yang tak lagi merapat

Terlunta di antara kecipak bakau dan

Luka dalam dadanya

(Pengembaraan Jukung)



Perempuan itu beranjak perlahan dengan langkah terpincang

menuju matahari terbenam

(Seorang Perempuan Tua di antara Runtuhan Rumah, Jasad Suami serta Anak Lelakinya Di Rafah)



Kau, entah berkutat dengan derita yang mana

Dan aku,

cukup sibuk menyiapkan diri

dengan airmata

Karena ini zaman yang sentimental


(Kau tertawa lagi, kali ini terlihat cukup tulus)

(Sebuah Percakapan, dan Ini Chairil)



Kesimpulan

Persoalannya adalah unsur dramatik. Karya-karya puisi dan cerpen Dewi kaya akan unsur ini. Mungkinkah bermuara dari kepribadiannya? Persoalan yang kecil bisa menjadi besar dan rumit penyelesaiannya hanya karena didramatisir. Sedih bisa menjadi sedih tak berakhir hanya karena didramatisir. Takut bisa menjadi takut yang melumpuhkan gara-gara didramatisir. Ketika unsur dramatik dalam diri tak mampu dikendalikan atau katakanlah dilokalisasi hanya pada karya, tentu akan menjadi senjata makan tuan / bumerang besar yang merugikan.


Sebelum ditutup, ngomong-ngomong tentang salju pada puisi Salju Turun di Senja Martapura, pikiranku selalu terhubung dengan kritik Saut Situmorang terhadap puisi Agus R. Sarjono (carilah di blog Agus R. Sarjono). Persepsi salju di mata orang tropis kerap romantik, padahal persepsi banyak orang yang hidup di negeri 4 musim, turunnya salju menandakan suatu cuaca yang buruk. Entahlah.


Terakhir, aku ingin menuliskan kegamangan sejumlah orang yang mengkuatirkan keberlangsungan seorang penulis perempuan setelah ia menikah. Mampukah ia terus menulis di antara peran-peran baru yang menghimpitnya? Kupikir sejumlah perempuan dapat menjawab dan membuktikan bahwa hal itu mungkin. Yang lain tidak.


Dewi Alfianti? Masih tanda tanya.



Banjarmasin, 4 Maret 2009.

Terima kasih: YS. Agus Suseno

Read More......

PERTENGKARAN


Seorang laki-laki bergegas ke dapur
Sepotong daging menggonggong di depan pagar
Dua layangan putus berayun di kejauhan
Tapi teriakan itu tak ada habisnya
Di masa lalu tumbuh dengan liar
Di masa depan mekar sebagai gema
Mendesakmu yang kini telungkup
Mendesakku yang kini maut


Kamis, 13 Peb 03


Read More......





Read More......